Selasa, 17 April 2012

Diet Ketogenik Melawan Epilepsi Bandel

Epilepsi (Ayan) adalah kelainan syaraf terbanyak ke dua setelah stroke di dunia dan menjangkiti kurang lebih 50 juta manusia. Kelainan ini ditandai dengan kekejangan (seizure) yang terjadi secara berulang (recurrent) dan tanpa pemicu (unprovoked). Dengan kemajuan penemuan obat, epilepsi memang sudah dapat diatasi pada sekitar 60 persen penderitanya, namun sekitar 30 persen penderita lainnya tidak mempan dengan pengobatan ini dan disebutkan dengan refractory (bandel). Dalam kondisi seperti ini maka pilihan pengobatan dengan diet ketogenik menjadi harapan yang menjanjikan.



Adalah Charlie Abrahams, putra dari sutradara Hollywood Jim Abrahams berusia dua tahun yang pada tahun 1994 telah membuka mata perhatian dunia dalam penanganan epilepsi ini. Charlie Abrahams termasuk dalam penderita yang refractory terhadap semua jenis obat-obatan epilepsi. Dalam keputusasaan, Jim Abrahams menemui dokter John Freeman di rumah sakit Johns Hopkins dan dia ditawarkan untuk pengobatan diet ketogenik. Diet ketogenik sesungguhnya berbentuk pola makan yang mengandung unsur lemak sangat tinggi dan karbohidrat sangat rendah. Pola makan seperti ini menyerupai kondisi orang yang kekurangan makan berat (starvation) dimana tubuh terpaksa akan membakar lemak dan bukan karbohidrat sebagai sumber enerjinya. Dalam keadaan normal, karbohidrat di dalam tubuh akan diubah menjadi glukosa dan kemudian akan dialirkan melalui pembuluh darah sebagai 'bahan bakar' termasuk ke otak. Namun bilamana tidak ada karbohidrat, maka hati akan mengubah lemak menjadi asam lemak (fatty acid) dan keton. Keton ini akan menuju ke otak menggantikan glukosa sebagai sumber enerji. Adanya peningkatan keton dalam darah yang disebut dengan ketosis ini, terbukti dapat mengurangi serangan kejang epilepsi secara bermakna.


Diet ketogenik ini memang tidak mudah dan tidak sederhana. Secara umum perbandingan jumlah lemak dengan gabungan protein dan karbohidrat adalah 4:1. Namun takaran yang diaplikasikan pada jenis makanan pada anak-anak (karena umumnya ayan bandel ini diderita oleh anak) harus benar-benar tepat dan tidak boleh menyimpang. Ini tentunya dengan tujuan agar supaya diet yang ekstrem ini tidak mempengaruhi tumbuh kembang si anak. Juga karena pada diet ketogenik ini rentan mengakibatkan terjadinya konstipasi (sulit buang air besar) dan batu ginjal (kidney stone), maka konsumsi air minum harus terjaga. Demikian pula karena berkurangnya unsur pelengkap kalsium dan magnesium dalam makanan maka ada resiko gigi dan rambut yang rontok dan tulang yang rapuh.


Namun dari fakta yang didapat pada pengobatan diet ketogenik ini didapatkan 7 dari 10 penderita ayan yang bandel ini mengalami kesembuhan serangan kejang. Dari serangan kejang yang berkisar 100 sampai 130 kali sehari dapat berkurang hingga menjadi kurang dari 6 kali. Pengobatan dengan diet ketogenik ini umumnya dilaksanakan sekitar dua tahun secara ketat dan pada kasus Charlie Abrahams sekarang dia boleh dikatakan sudah terbebas dari epilepsi dan sedang mempersiapkan diri akan masuk perguruan tinggi. Perjuangan orang tua didalam menanamkan kesadaran dan kedisiplinan pada anaknya memang tidak ringan. Dalam banyak kesempatan anak harus menahan air liur untuk memakan cake, ice-cream, pizza,tortilla, macaroni, soda (semuanya kaya dengan karbohidrat) yang menjadi pantangan kerasnya.
Sejarah pergumulan dunia kedokteran dalam mengatasi epilepsi ini sudah cukup panjang. Pada tahun 1857 digunakan bromide (yang sekaligus membuat penderita terbius), kemudian tahun 1912 ditemukan phenobarbital. Pada tahun 1920, sebenarnya sudah dilaksanakan cara penanganan epilepsi dengan diet ketogenik ini, namun dengan ditemukannya obat phenytoin (Dilantin) pada tahun 1938, cara pantangan makan ini ditinggalkan. Apalagi setelah pada tahun 1970an ditemukan sodium valproate yang sangat ampuh. Namun dengan adanya kasus-kasus epilepsi yang membandel ini, maka konsep diet ketogenik kini mendapat tempat kembali di protokol pengobatan. Tercatat 45 negara di dunia sudah mengadopsi diet ketogenik di rumah sakitnya. Penelitian kedokteran masih terus dikembangkan mengenai cara diet rendah karbohidrat ini, karena percobaan pada tikus menunjukkan bahwa cara ini dapat mengobati penyakit kanker, penyakit jantung sampai katarak.

Kategori

abc Epilepsi (5) Acara Epilepsi (1) acara TV (1) adsense (1) Album Photo (1) apa itu epilepsi (4) bagaimana epilepsi (2) Berdamai Dengan Epilepsi (1) bisnis internet (1) buku (1) buku epilepsi (1) buletin rutin YEI (2) carbamazepine (1) Carbamazepine; luminal (1) cerita epilepsi (5) clobazam (1) Data Anggota (1) Data BASS anggota (1) Diet Ketogenik (6) Donasi (3) Donatur (1) epilepsi (3) epilepsy and food combining (1) Fun Walk (2) Fun Walk 2015 (3) Ganggua Penyerta (1) halal bil halal (3) Hari Epilepsi Internasional (2) Himbauan (1) HUT Yayasan Epilepsi Indonesia (3) HUT YEI 2016 (1) Idul Fitri (1) Jaknews (1) kartu anggota (1) Keanggotaan (1) Kebiasaan Mengkonsumsi Obat (1) kegiatan (16) kelangkaan obat (1) Kepengurusan (2) Kerjasama (1) ketrampilan (4) Kiat (2) komunitas (2) Komunitas Debosi (2) komunitas peduli epilepsi (2) komunitas peduli epilepsi Bandung (1) Konferensi (1) Konferensi Nasional Epilepsi 2016 (1) Media Massa (18) menikah (1) Misi YEI (2) Nomor ID YEI (1) Olah Raga (1) opini (1) pemeriksaan darah (1) Pendaftaran Anggota YEI (1) Pendataan anggota YEI (1) Pengobatan Epilepsi (1) Pertemuan (5) Pertemuan Rutin (9) Pertemuan Rutin epilepsi (1) prodia (2) Puasa (2) purple day (3) purple day 2013 (2) Purple Day 2014 (3) purple day 2017 (1) Resolusi WHO (1) Seminar (12) seminar epilepsi (4) survey (1) tabel (1) Tahun Baru (1) talk show epilepsi (1) tata laksana epilepsi pada penderita Dewasa (1) Terapi Epilepsi (2) tips (1) Tulisan bebas (7) Ucapan Idul Fitri (1) ulang tahun YEI (2) Wirausaha (1)

Purple Day - 26 Maret