Senin, 30 Januari 2017

Apa yang Pengaruhi Munculnya Gangguan Penyerta Epilepsi?

Terganggunya suatu organ bisa menyebabkan organ lain ikut mengalami gangguan. Hal itulah yang terjadi pada penyakit epilepsi dan gangguan lain yang menyertainya (komorbiditas). 

Tentunya jenis komorbiditas yang timbul tidak sama antar penderita epilepsi. Misalnya, kerusakan otak pada penderita epilepsi mengganggu tumbuh kembang hingga menurunkan kemampuan anak. 
 
"Gangguan yang timbul bergantung pada kapan epilepsi diketahui, terapi yang dijalani, dan jenis epilepsi yang dijalani. Ketiganya berefek pada bagaimana kontrol kejang yang timbul dari epilepsi," kata dokter neurologi anak, Setyo Handryastuti, pada seminar Pahami Penyakit Penyerta pada Epilepsi Anak, di Jakarta.
 
Berikut tiga faktor penentu komorbiditas epilepsi pada anak:
1. Jenis epilepsi
Epilepsi pada dasarnya dibagi dua, yaitu simtomatik yang ditandai adanya kerusakan otak pada hasil CT Scan atau MRI; dan idiopatik yang tidak ditandai adanya kerusakan otak. Keduanya ada pada jenis kejang akibat epilepsi, yaitu sebagian (fokal) dan umum. Makin berat epilepsi yang diderita maka gangguan penyertanya kemungkinan juga semakin berat.
 
Hal lain yang patut diwaspadai adalah sindrom epilepsi yang cukup berbahaya, misalnya penyakit leros gasto. Penyakit ini adalah epilepsi yang ditandai keterbelakangan mental dan terlambatnya perkembangan motorik pada anak. Keterlambatan bisa terjadi sebelum atau setelah diagnosis epilepsi.
 
2. Jenis terapi
Terapi dengan dua macam obat memberi risiko komordibitas lebih besar pada pasien dibanding yang hanya memperoleh satu macam obat. Hal ini sama dengan penggunaan fenobarbital pada penderita epilepsi.
 
"Fenobarbital digunakan untuk mengontrol kejang penderita epilepsi. Namun penggunaan jangka panjang berisiko menyebabkan hiperaktif dan ADHD pada anak. Karena itu penggunaan fenobarbital mulai dibatasi, dan hanya diberikan dalam keadaan darurat," kata Handry.
 
3. Usia terkena epilepsi
Pasien yang sudah lama menderita epilepsi tanpa mendapatkan terapi sesuai, berisiko mengalami komordibitas lebih besar. Risiko yang sama juga dialami penderita epilepsi yang kerap kejang.
 
Menghadapi risiko ini, Handry menyarankan orangtua segera memeriksakan anaknya yang kerap kejang tanpa dilalui demam tinggi atau cedera kepala. Kejang merupakan gejala khas penderita epilepsi yang disebabkan ketidakseimbangan muatan listrik pada otak. Dengan memeriksakan sesegera mungkin, pasien bisa secepatnya mendapat terapi untuk mengendalikan epilepsi dan menghadapi komorbiditas yang timbul.
 
"Prinsip terapi adalah monoterapi satu obat sesuai tipe kejang dan epilepsi, dengan dosis serendah mungkin. Selanjutnya dokter akan mengevaluasi selama 1-2 minggu apakah masih ada kejang. Jika tidak ada pengobatan diberikan dalam dosis tetap selama dua tahun, namun bila masih kejang, dosis obat dinaikkan bertahap hingga bebas kejang selama dua tahun," kata Handry.

Sumber :
http://health.kompas.com/read/2014/03/21/1416265/Apa.yang.Pengaruhi.Munculnya.Gangguan.Penyerta.Epilepsi.

Minggu, 29 Januari 2017

Ini Olahraga yang Dianjurkan untuk Penderita Epilepsi

JAKARTA, KOMPAS.com – Penderita epilepsi tak perlu takut dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Olahraga pun boleh dilakukan. Hanya saja, tak semua olahraga baik untuk orang dengan epilepsi. Beberapa olahraga bisa membahayakan penderita epilepsi jika tiba-tiba mengalami kejang.
“Olahraga itu tetap baik untuk pasien epilepsi.  Ya, ada olahraga yang tidak boleh, misalnya berenang karena kalau tiba-tiba kejang di air bisa berbahaya atau olahraga bersepeda, nanti bisa jatuh,” ujar dokter spesialis syaraf Fitri Octaviana Sumantri dalam diskusi di Jakarta, Kamis (29/1/2015).
Pilihlah olahraga yang aman seperti jogging, badminton, tenis, yoga, hingga basket. Selain membuat tubuh sehat, olahraga dapat meningkatkan kepercayaan diri orang dengan epilepsi.
“Jadi sebaiknya olahraga yang tidak menggunakan alat dan tidak di daerah berbahaya. Jangan rock climbing misalnya,” lanjut Fitri.
Saat olahraga, sebaiknya tidak seorang diri atau diberi pendampingan agar bisa mendapat pertolongan ketika tiba-tiba kejang. Saat menjalani aktivitas sehari-hari, seperti mengendarai mobil dan motor, perhatikan pula masa kejang atau bangkitan.
Jika pasien mengalami kejang yang sulit terkontrol, maka dilarang mengendarai mobil atau motor karena membahayakan diri sendiri dan orang lain. Mengendarai boleh dilakukan jika pasien epilepsi telah bebas kejang selama minimal 6-12 bulan. Namun, tetap dalam pengawasan.
Bangkitan pada penderita epilepsi bisa terjadi tiba-tiba dan berulang. Minum obat dapat membantu mengontrol bangkitan.

Sumber :
http://health.kompas.com/read/2015/01/29/163000423/Ini.Olahraga.yang.Dianjurkan.untuk.Penderita.Epilepsi

Jumat, 27 Januari 2017

Epilepsi Tidak Menular Dan Bisa Diobati

Epilepsi atau yang dikenal dengan penyakit ayan bukan penyakit menular. Epilepsi bisa diobati dan dikendalikan dengan obat anti epilepsi.
Sayangnya, masih saja ada stigma terhadap orang dengan epilepsi (ODE). Ada yang dikucilkan dari lingkungan, dikeluarkan dari sekolah, terhambat karirnya, hingga ke masalah rumah tangga.
Irawaty Hawari, Ketua Yayasan Epilepsi Indonesia yang juga dokter spesialis saraf menceritakan bahwa di beberapa daerah, epilepsi masih kurang dipahami oleh masyarakat.
Sering kali kejang atau bangkitan yang dialami ODE dikira sedang kerasukan makhluk halus. Terjadinya kejang dipandang sebagai hal yang menakutkan. Padahal seharusnya tidak demikian.
“Masih banyak mitos mengenai epilepsi. Kami dapat laporan dari salah satu orang dengan epilepsi, kalau ada anak yang kejang maka sekolah diliburkan, murid-murid dipulangkan,” ujar Ira beberapa waktu lalu di Jakarta.
Bangkitan yang dialami ODE pun tak hanya kejang. Tiba-tiba bengong atau hilang kesadaran sesaat, hingga berteriak sendiri juga merupakan tipe bangkitan ODE.
Sayangnya, ODE yang mengalami bangkitan berteriak sering kali dianggap menderita gangguan jiwa. Akibatnya penanganan yang salah dilakukan terhadap ODE yaitu dibawa ke rumah sakit.
Menurut Ira, stigma dapat membuat ODE merasa tertekan dan depresi. Banyak pula keluarga ODE yang menutup-nutupi keadaan sehingga penanganan epilepsi menjadi tidak optimal. Padahal, kejang atau bangkitan lain dapat dikontrol dengan obat yang tepat.
Epilepsi bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari anak-anak maupun orang dewasa. Obat dapat menghentikan serangan epilepsi dan meningkatkan kualitas hidup ODE.
“Epilepsi enggak pengaruhi IQ. ODE sama saja dengan yang lain, bisa berprestasi, yang penting terkontrol,” jelas Ira.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap ODE, dunia pun menyepakati Hari Epilepsi Internasional akan diperingati setiap minggu kedua di bulan Februari atau jatuh pada 9 Februari 2015. Ira mengatakan, peringatan ini diprakarsai oleh The International Bureau for Epilepsy (IBE) dan The International League Against Epilepsy (ILAE).

Sumber : 
http://health.kompas.com/read/2015/02/10/154740723/Epilepsi.Tidak.Menular.dan.Bisa.Diobati

Kategori

abc Epilepsi (5) Acara Epilepsi (1) acara TV (1) adsense (1) Album Photo (1) apa itu epilepsi (4) bagaimana epilepsi (2) Berdamai Dengan Epilepsi (1) bisnis internet (1) buku (1) buku epilepsi (1) buletin rutin YEI (2) carbamazepine (1) Carbamazepine; luminal (1) cerita epilepsi (5) clobazam (1) Data Anggota (1) Data BASS anggota (1) Diet Ketogenik (6) Donasi (3) Donatur (1) epilepsi (3) epilepsy and food combining (1) Fun Walk (2) Fun Walk 2015 (3) Ganggua Penyerta (1) halal bil halal (3) Hari Epilepsi Internasional (2) Himbauan (1) HUT Yayasan Epilepsi Indonesia (3) HUT YEI 2016 (1) Idul Fitri (1) Jaknews (1) kartu anggota (1) Keanggotaan (1) Kebiasaan Mengkonsumsi Obat (1) kegiatan (16) kelangkaan obat (1) Kepengurusan (2) Kerjasama (1) ketrampilan (4) Kiat (2) komunitas (2) Komunitas Debosi (2) komunitas peduli epilepsi (2) komunitas peduli epilepsi Bandung (1) Konferensi (1) Konferensi Nasional Epilepsi 2016 (1) Media Massa (18) menikah (1) Misi YEI (2) Nomor ID YEI (1) Olah Raga (1) opini (1) pemeriksaan darah (1) Pendaftaran Anggota YEI (1) Pendataan anggota YEI (1) Pengobatan Epilepsi (1) Pertemuan (5) Pertemuan Rutin (9) Pertemuan Rutin epilepsi (1) prodia (2) Puasa (2) purple day (3) purple day 2013 (2) Purple Day 2014 (3) purple day 2017 (1) Resolusi WHO (1) Seminar (12) seminar epilepsi (4) survey (1) tabel (1) Tahun Baru (1) talk show epilepsi (1) tata laksana epilepsi pada penderita Dewasa (1) Terapi Epilepsi (2) tips (1) Tulisan bebas (7) Ucapan Idul Fitri (1) ulang tahun YEI (2) Wirausaha (1)

Purple Day - 26 Maret