Selasa, 20 Juni 2017

Apa Itu Epilepsi?


Materi yang dibahas : 
- Definisi Kejang
- Apakah itu epilepsi
- Diagnosis Epilepsi
- Mengatasi kejang pada anak.
- Pengobatan epilepsi pada anak.
- Hal-hal yang dapat menimbulkan kekambuhan kejang
- Terapi lain epilepsi
- Bedah Epilepsi
- Peranan orang tua di rumah
- Peranan orang tua di sekolah
- Peranan orang tua di masyarakat
- Problem belajar pada anak dengan epilepsi
- Aktifitas Soial, Rekreasi, dan olah raga
- Permasalahan pada anak dengan epilepsi yang beranjak remaja.
- Epilepsi Pada Usia Dewasa

Tebal 100 halaman.



Transfer langsung ke rekening :

Yayasan Epilepsi Indonesia
Bank Mandiri Cab Pondok Indah

Kamis, 15 Juni 2017

Dukung Kami Mengedukasi Masyarakat




Dukung kami mengedukasi masyarakat tentang Epilepsi. Orang Dengan Epilepsi bisa hidup normal seperti orang kebanyakan. Dukungan anda untuk pengedukasian masyarakat sangat berharga.

Donasi anda bisa dikirimkan ke : 










Selasa, 23 Mei 2017

Media : Jangan Kucilkan Orang Dengan Epilepsi





Jakarta, Meski epilepsi atau ayan sudah dikenal lama tapi pemahaman tentang penyakit ini masih rendah salah satunya mengira epilepsi adalah penyakit menular. Padahal epilepsi bukanlah penyakit menular sehingga penyandangnya tak perlu dikucilkan.

Banyak orang yang memiliki pandangan epilepsi adalah penyakit kutukan, kena guna-guna, kerasukan roh, dapat menular melalui air liur yang dikeluarkan serta tidak boleh terkena air atau dekat api. Namun semua anggapan itu tidaklah benar.

Kondisi ini membuat penyandang epilepsi kadang dikucilkan dari lingkungan dan membuatnya merasa tertekan serta depresi. Padahal epilepsi dapat diobati dan dikendalikan sehingga bisa hidup normal.

"Epilepsi sama sekali tidak menular dan bukan penyakit menular. Dengan demikian, jangan sekali-kali mengucilkan penyandang epilepsi," ujar Dr Hardiono D Pusponegoro, SpA(K) dari divisi saraf anak, Departemen Ilmu Penyakit Anak UI dalam acara seminar media 'Mari Hapus Stigma Negatif Epilepsi' di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (15/12/2011).

Dr Hardiono menuturkan ada pasangan yang tidak jadi menikah setelah tahu si perempuan memiliki epilepsi. Padahal tidak terdapat kaitan yang jelas antara orangtua yang epilepsi dengan anak-anaknya yang menyandang epilepsi.

Sementara itu dr Lyna Soertidewi, SpS(K) MEpid dari Departemen ilmu penyakit saraf UI menuturkan perempuan yang epilepsi bisa melakukan pengobatan yang optimum sebelum hamil.

Jika ingin hamil maka sebaiknya konsultasikan dengan dokter, melakukan perubahan pengobatan 6 bulan sebelum hamil lalu ditambah dengan asam folat dan mengonsumsi obat anti epilepsi.

"Wanita hamil dengan epilepsi yang menghentikan sendiri pengobatannya bisa berakibat fatal baik untuk ibu maupun janinnya, karena kalau ia mengalami kejang-kejang bisa menyebabkan kurang oksigen," ujar dr Lyna.

Perempuan dengan epilepsi seringkali takut bila calon suaminya mengetahui bahwa ia memiliki epilepsi, karena jika anaknya cacat maka ia akan disalahkan oleh suami dan keluarganya.

Sementara itu dr Irawati Hawari, SpS, Ketua Yayasan Epilepsi Indonesia menuturkan perlu mengubah cara pandang masyarakat tentang epilepsi dan menghapus stigma negatif bahwa epilepsi adalah penyakit memalukan bagi keluarga.

"Perlu meningkatkan kepedulian kita terutama orangtua dan keluarga terhadap penyandang epilepsi sehingga mereka bisa memiliki kualitas hidup yang baik," ujar dr Ira.

Jika menemukan ada orang yang terkena serangan kejang epilepsi, Dr Hardiono memberikan beberapa tips pertolongan yaitu:
1. Miringkan pasien, agar ketika ia muntah tidak masuk lagi karena kalau masuk ke paru-paru bisa merusak
2. Melonggarkan pakaian atau baju yang digunakan dan melindunginya dari benda-benda tajam
3. Jangan dipegang atau menahan gerakan yang bersangkutan karena bisa membuat patah tulang
4. Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut karena tidak ada gunanya
5. Bila keadaan berbahaya, segera bawa ke rumah sakit dan hubungi dokter.


(ver/ir)


Minggu, 21 Mei 2017

Media : Kenali Penanganan Epilepsi




Jakarta, GoHitz.com – Perempuan cantik bernama Stefani Claudia (24 tahun) tak pernah menyangka bahwa prestasi internasional di ajang Sea Games yang akan diraihnya pupus sudah. Mantan atlet renang ini bercerita bahwa ketika usia 12 tahun, ia tiba-tiba kejang, padahal dirinya jarang sakit. Setelah mendapatkan perawatan, ternyata dokter mengatakan bahwa dirinya terkena epilepsi dan ia mesti mengakhiri karirnya sebagai perenang.    
“Saya sempat drop. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Tepat pada tahun 2014, saya menjalankan operasi bedah di otak dan penyakit saya mereda,” ujar Audy, panggilan akrabnya saat berbincang dalam acara “International Epilepsy Day” di Mall Neo Soho, Jakarta, Minggu (22/4).
Pada sebagian kasus epilepsi ada pula penanganan epilepsi tidak hanya obat antiepilepsi (OAE), tapi juga dengan bedah otak.
“Bedah otak ini hanya untuk mengangkat bagian otak yang menghasilkan kejang. Proses pembedahan ini juga melalui rangkaian proses pemeriksaan. Bedah otak ini tidak akan menimbulkan masalah signifikan,” imbuh dr. Astri Budikayanti, SpS (K), Staf Pengajar Spesialis Neurologi, Fakultas Kedokteran UI/RSCM.
Dokter dengan riwayat pendidikan EEG in the Diagnosis & Management of Epilepsy di ILAE Virtual Academy Epilepsy mengatakan bahwa epilepsi atau istilah awamnya ayan ini adalah kondisi dimana seseorang mengalami kejang berulang. “Namun, ada pula tanda cecapan berulang, kejang hingga diam sesaat,” ujarnya.
Dokter Astri menjelaskan bahwa ada tiga penyebab epilepsi. “Faktor keturunan, biasanya bila dideteksi sejak dini dan penanganan cepat, epilepsi yang menyerang usia anak ini lebih cepat sembuh. Penyebab kedua itu karena ada tumor, infeksi, cedera kepala, ini pun kemungkinan juga bisa sembuh. Sedangkan untuk epilepsi yang tak diketahui penyebabnya ini susah untuk sembuh dan serangannya terjadi terus-menerus,” bebernya.
Dokter cantik ini mengingatkan bahwa orang di sekitarnya juga mesti respons cepat bila terjadi kejang pada penderita epilepsi karena terdapat beberapa situasi yang membahayakan nyawa penderita epilepsi seperti tenggelam, terjatuh, hingga kecelakaan bila terjadi serangan.
“Bila kejang sesaat biarkan dulu kejang itu selesai biasanya ini terjadi kurang dari 5 menit. Jangan beri sendok atau apapun ke mulut pasien karena hal itu justru membahayakannya.  Saat itu, penderita epilepsi itu tidak menyadari apa yang terjadi. Tapi, kalau kejang berulang, segera bawa ke dokter,” tegas dr. Astri.
Dokter yang berpraktik di RSCM mengingatkan kepada para pasien epilepsi untuk memerhatikan pola makan, istirahat cukup dan cukup tidur.

Media : Menghadapi Psikososial Penderita Epilepsi


Senin, 08 Mei 2017

Selasa, 18 April 2017

Arsip : Bunga Rampai Epilepsi Di Indonesia



Dukung kami mengedukasi masyarakat tentang epilepsi, dukungan akan sangat berarti. Silakan donasikan dukungan anda ke :


Kisah Audi, Gadis yang Aktif Menari Meski Mengidap Epilepsi





Jakarta, Epilepsi biasanya dapat mengganggu aktivitas seseorang karena serangan kejang bisa muncul secara tiba-tiba. Sehingga banyak orang dengan epilepsi (ODE) yang mengurangi aktivitasnya.

Namun berbeda dengan yang dilakukan Audi, ia justru aktif berkegiatan menari meski memiliki epilepsi. Sebab menurutnya epilepsi merupakan kelebihan bagi dirinya.

Ia mampu melakukan berbagai tarian seperti tari balet, bali, china hingga kontemporer. Selain itu Audi mengatakan, ia belum pernah mengalami serangan kejang saat sedang menari.

Rabu, 15 Februari 2017

Senin, 13 Februari 2017

Foto : Talk Show Berdamai Dengan Epilepsi

Sabtu, 11-2-2017 Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran UNAIR menyelenggarakan talk show dengan tema Berdamai Dengan Epilepsi.












Senin, 30 Januari 2017

Apa yang Pengaruhi Munculnya Gangguan Penyerta Epilepsi?

Terganggunya suatu organ bisa menyebabkan organ lain ikut mengalami gangguan. Hal itulah yang terjadi pada penyakit epilepsi dan gangguan lain yang menyertainya (komorbiditas). 

Tentunya jenis komorbiditas yang timbul tidak sama antar penderita epilepsi. Misalnya, kerusakan otak pada penderita epilepsi mengganggu tumbuh kembang hingga menurunkan kemampuan anak. 
 
"Gangguan yang timbul bergantung pada kapan epilepsi diketahui, terapi yang dijalani, dan jenis epilepsi yang dijalani. Ketiganya berefek pada bagaimana kontrol kejang yang timbul dari epilepsi," kata dokter neurologi anak, Setyo Handryastuti, pada seminar Pahami Penyakit Penyerta pada Epilepsi Anak, di Jakarta.
 
Berikut tiga faktor penentu komorbiditas epilepsi pada anak:
1. Jenis epilepsi
Epilepsi pada dasarnya dibagi dua, yaitu simtomatik yang ditandai adanya kerusakan otak pada hasil CT Scan atau MRI; dan idiopatik yang tidak ditandai adanya kerusakan otak. Keduanya ada pada jenis kejang akibat epilepsi, yaitu sebagian (fokal) dan umum. Makin berat epilepsi yang diderita maka gangguan penyertanya kemungkinan juga semakin berat.
 
Hal lain yang patut diwaspadai adalah sindrom epilepsi yang cukup berbahaya, misalnya penyakit leros gasto. Penyakit ini adalah epilepsi yang ditandai keterbelakangan mental dan terlambatnya perkembangan motorik pada anak. Keterlambatan bisa terjadi sebelum atau setelah diagnosis epilepsi.
 
2. Jenis terapi
Terapi dengan dua macam obat memberi risiko komordibitas lebih besar pada pasien dibanding yang hanya memperoleh satu macam obat. Hal ini sama dengan penggunaan fenobarbital pada penderita epilepsi.
 
"Fenobarbital digunakan untuk mengontrol kejang penderita epilepsi. Namun penggunaan jangka panjang berisiko menyebabkan hiperaktif dan ADHD pada anak. Karena itu penggunaan fenobarbital mulai dibatasi, dan hanya diberikan dalam keadaan darurat," kata Handry.
 
3. Usia terkena epilepsi
Pasien yang sudah lama menderita epilepsi tanpa mendapatkan terapi sesuai, berisiko mengalami komordibitas lebih besar. Risiko yang sama juga dialami penderita epilepsi yang kerap kejang.
 
Menghadapi risiko ini, Handry menyarankan orangtua segera memeriksakan anaknya yang kerap kejang tanpa dilalui demam tinggi atau cedera kepala. Kejang merupakan gejala khas penderita epilepsi yang disebabkan ketidakseimbangan muatan listrik pada otak. Dengan memeriksakan sesegera mungkin, pasien bisa secepatnya mendapat terapi untuk mengendalikan epilepsi dan menghadapi komorbiditas yang timbul.
 
"Prinsip terapi adalah monoterapi satu obat sesuai tipe kejang dan epilepsi, dengan dosis serendah mungkin. Selanjutnya dokter akan mengevaluasi selama 1-2 minggu apakah masih ada kejang. Jika tidak ada pengobatan diberikan dalam dosis tetap selama dua tahun, namun bila masih kejang, dosis obat dinaikkan bertahap hingga bebas kejang selama dua tahun," kata Handry.

Sumber :
http://health.kompas.com/read/2014/03/21/1416265/Apa.yang.Pengaruhi.Munculnya.Gangguan.Penyerta.Epilepsi.

Minggu, 29 Januari 2017

Ini Olahraga yang Dianjurkan untuk Penderita Epilepsi

JAKARTA, KOMPAS.com – Penderita epilepsi tak perlu takut dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Olahraga pun boleh dilakukan. Hanya saja, tak semua olahraga baik untuk orang dengan epilepsi. Beberapa olahraga bisa membahayakan penderita epilepsi jika tiba-tiba mengalami kejang.
“Olahraga itu tetap baik untuk pasien epilepsi.  Ya, ada olahraga yang tidak boleh, misalnya berenang karena kalau tiba-tiba kejang di air bisa berbahaya atau olahraga bersepeda, nanti bisa jatuh,” ujar dokter spesialis syaraf Fitri Octaviana Sumantri dalam diskusi di Jakarta, Kamis (29/1/2015).
Pilihlah olahraga yang aman seperti jogging, badminton, tenis, yoga, hingga basket. Selain membuat tubuh sehat, olahraga dapat meningkatkan kepercayaan diri orang dengan epilepsi.
“Jadi sebaiknya olahraga yang tidak menggunakan alat dan tidak di daerah berbahaya. Jangan rock climbing misalnya,” lanjut Fitri.
Saat olahraga, sebaiknya tidak seorang diri atau diberi pendampingan agar bisa mendapat pertolongan ketika tiba-tiba kejang. Saat menjalani aktivitas sehari-hari, seperti mengendarai mobil dan motor, perhatikan pula masa kejang atau bangkitan.
Jika pasien mengalami kejang yang sulit terkontrol, maka dilarang mengendarai mobil atau motor karena membahayakan diri sendiri dan orang lain. Mengendarai boleh dilakukan jika pasien epilepsi telah bebas kejang selama minimal 6-12 bulan. Namun, tetap dalam pengawasan.
Bangkitan pada penderita epilepsi bisa terjadi tiba-tiba dan berulang. Minum obat dapat membantu mengontrol bangkitan.

Sumber :
http://health.kompas.com/read/2015/01/29/163000423/Ini.Olahraga.yang.Dianjurkan.untuk.Penderita.Epilepsi

Jumat, 27 Januari 2017

Epilepsi Tidak Menular Dan Bisa Diobati

Epilepsi atau yang dikenal dengan penyakit ayan bukan penyakit menular. Epilepsi bisa diobati dan dikendalikan dengan obat anti epilepsi.
Sayangnya, masih saja ada stigma terhadap orang dengan epilepsi (ODE). Ada yang dikucilkan dari lingkungan, dikeluarkan dari sekolah, terhambat karirnya, hingga ke masalah rumah tangga.
Irawaty Hawari, Ketua Yayasan Epilepsi Indonesia yang juga dokter spesialis saraf menceritakan bahwa di beberapa daerah, epilepsi masih kurang dipahami oleh masyarakat.
Sering kali kejang atau bangkitan yang dialami ODE dikira sedang kerasukan makhluk halus. Terjadinya kejang dipandang sebagai hal yang menakutkan. Padahal seharusnya tidak demikian.
“Masih banyak mitos mengenai epilepsi. Kami dapat laporan dari salah satu orang dengan epilepsi, kalau ada anak yang kejang maka sekolah diliburkan, murid-murid dipulangkan,” ujar Ira beberapa waktu lalu di Jakarta.
Bangkitan yang dialami ODE pun tak hanya kejang. Tiba-tiba bengong atau hilang kesadaran sesaat, hingga berteriak sendiri juga merupakan tipe bangkitan ODE.
Sayangnya, ODE yang mengalami bangkitan berteriak sering kali dianggap menderita gangguan jiwa. Akibatnya penanganan yang salah dilakukan terhadap ODE yaitu dibawa ke rumah sakit.
Menurut Ira, stigma dapat membuat ODE merasa tertekan dan depresi. Banyak pula keluarga ODE yang menutup-nutupi keadaan sehingga penanganan epilepsi menjadi tidak optimal. Padahal, kejang atau bangkitan lain dapat dikontrol dengan obat yang tepat.
Epilepsi bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari anak-anak maupun orang dewasa. Obat dapat menghentikan serangan epilepsi dan meningkatkan kualitas hidup ODE.
“Epilepsi enggak pengaruhi IQ. ODE sama saja dengan yang lain, bisa berprestasi, yang penting terkontrol,” jelas Ira.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap ODE, dunia pun menyepakati Hari Epilepsi Internasional akan diperingati setiap minggu kedua di bulan Februari atau jatuh pada 9 Februari 2015. Ira mengatakan, peringatan ini diprakarsai oleh The International Bureau for Epilepsy (IBE) dan The International League Against Epilepsy (ILAE).

Sumber : 
http://health.kompas.com/read/2015/02/10/154740723/Epilepsi.Tidak.Menular.dan.Bisa.Diobati

Kategori

abc Epilepsi (5) Acara Epilepsi (1) acara TV (1) adsense (1) Album Photo (1) apa itu epilepsi (4) bagaimana epilepsi (2) Berdamai Dengan Epilepsi (1) bisnis internet (1) buku (1) buku epilepsi (1) buletin rutin YEI (2) carbamazepine (1) Carbamazepine; luminal (1) cerita epilepsi (5) clobazam (1) Data Anggota (1) Data BASS anggota (1) Diet Ketogenik (6) Donasi (3) Donatur (1) epilepsi (3) epilepsy and food combining (1) Fun Walk (2) Fun Walk 2015 (3) Ganggua Penyerta (1) halal bil halal (3) Hari Epilepsi Internasional (2) Himbauan (1) HUT Yayasan Epilepsi Indonesia (3) HUT YEI 2016 (1) Idul Fitri (1) Jaknews (1) kartu anggota (1) Keanggotaan (1) Kebiasaan Mengkonsumsi Obat (1) kegiatan (16) kelangkaan obat (1) Kepengurusan (2) Kerjasama (1) ketrampilan (4) Kiat (2) komunitas (2) Komunitas Debosi (2) komunitas peduli epilepsi (2) komunitas peduli epilepsi Bandung (1) Konferensi (1) Konferensi Nasional Epilepsi 2016 (1) Media Massa (18) menikah (1) Misi YEI (2) Nomor ID YEI (1) Olah Raga (1) opini (1) pemeriksaan darah (1) Pendaftaran Anggota YEI (1) Pendataan anggota YEI (1) Pengobatan Epilepsi (1) Pertemuan (5) Pertemuan Rutin (9) Pertemuan Rutin epilepsi (1) prodia (2) Puasa (2) purple day (3) purple day 2013 (2) Purple Day 2014 (3) purple day 2017 (1) Resolusi WHO (1) Seminar (12) seminar epilepsi (4) survey (1) tabel (1) Tahun Baru (1) talk show epilepsi (1) tata laksana epilepsi pada penderita Dewasa (1) Terapi Epilepsi (2) tips (1) Tulisan bebas (7) Ucapan Idul Fitri (1) ulang tahun YEI (2) Wirausaha (1)

Purple Day - 26 Maret