Jumat, 26 Oktober 2012

Tatalaksana Epilepsi pada penderita Dewasa


                                                    Sri Erni Istiawati *

Membicarakan tatalaksana, selalu diawali dengan diagnosis terlebih dahulu. Diagnosis epilepsi tidak selalu mudah ditegakkan pada pertemuan pertama. Seringkali dokter yakin bahwa yang dihadapi benar penyandang epilepsi  setelah melakukan serangkaian wawancara dengan teliti dan diikuti dengan pemeriksaan fisik  atau menyaksikan sendiri serangan . Akan sangat membantu bila ada saksi yang dapat menjelaskan serangan dengan lebih tepat atau rekaman video dari serangan tersebut. Penderita yang masih  diduga menyandang epilepsi, perlu pemeriksaan tambahan berupa rekaman aktifitas otak atau EEG, pemeriksaan neuro-imajing otak dan atau pemeriksaan darah di laboratorium .



Pada kenyataannya penyandang epilepsi dapat menunjukkan  aktifitas otak dalam batas normal pada EEG yang dikerjakan secara rutin .Oleh karena itu EEG mungkin perlu dilakukan lebih dari satu kali disertai prosedur aktivasi atau proses  perekaman dilakukan lebih lama daripada pemeriksaan EEG rutin. Epilepsi disebabkan oleh kombinasi faktor genetik  dan faktor yang didapat. Pemeriksaan neuro-imajing otak diperlukan untuk melihat  kelainan atau proses kerusakan otak yang sangat mungkin menjadi penyebab epilepsi. Dari neuro-imajing dapat diketemukan beberapa penyebab seperti tumor otak, kelainan pembuluh darah atau akibat gangguan sirkulasi otak, cedera otak karena trauma, infeksi otak, penyakit degeneratift,  gangguan perkembangan otak atau lainnya. Faktor heriditer/turunan memegang peranan dalam terbentuknya epilepsi, walaupun mekanismenya tidak sederhana. Pemeriksaan kelainan gen hanya dapat dilakukan di laboratorium khusus. 

Untuk mengendalikan serangan, tersedia cukup beragam obat anti epileptik  di Indonesia.Obat anti epileptik yang diminum bermanfaat untuk mengendalikan serangan. Serangan memang penting untuk dikendalikan agar penyandang epilepsi dapat melakukan aktivitas kesehariannya dengan wajar. Beberapa penyandang epilepsi dengan kondisi tertentu atas pertimbangan dokter tidak mendapatkan obat anti epileptik. Sebagai pegangan bagaimana memilih obat tersebut bagi masing masing penyandang epilepsi adalah, tipe serangan, obat tersebut tersedia dan mudah didapat di Indonesia serta terjangkau / dapat dibeli dalam jangka waktu panjang. Kadang ada pertimbangan  jenis kelamin. Saat ini di Indonesia, makin sering dijumpai penyandang epilepsi karena proses keganasan yang mencapai otak ataupun karena infeksi otak kronis. Kedua proses penyakit tersebut juga mempengaruhi pemilihan obat yang lebih tepat untuk mengatasi serangan sekaligus tidak memperburuk kondisi penyandang atau obat dapat dipakai tanpa mengurangi efektifitas pengobatan penyakit dasarnya. Karena pertimbangan diatas, obat anti epileptik yang dikonsumsi tiap penyandang  tidak selalu sama;bervariasi sesuai kondisi masing masing penyandang. Agar penyandang epilepsi patuh minum obat tepat waktu, bila memungkinkan dapat dipilihkan obat yang diminum sekali sehari pada waktu yang sama setiap hari.

Manfaat kepatuhan minum obat harus dijelaskan sejak awal disertai penjelasan bagaimana cara meminum obat tersebut dengan tepat agar dapat dicapai manfaat yang diinginkan. Bila dikhawatirkan akan muncul reaksi obat yang tidak diinginkan selama pemakaian ; penyandang dan pendampingnya wajib diberi informasi. Informasi meliputi tanda tanda yang tampak / muncul pada penyandang dan apa yang harus dilakukan  agar reaksi tidak berlanjut dan atau  menjadi lebih berat. Selama ini reaksi tersebut relatif  jarang terjadi dan umumnya dapat diatasi dengan baik, sehingga tidak memperburuk keadaan umum penyandang dan yang lebih penting lagi  penyandang tetap bersedia melanjutkan pengobatan.Dalam pemilihan obat, selain obat tersebut dapat mengendalikan serangan, selalu diusahakan dengan efek samping yang sekecil mungkin.

Dari penelitian,  penyandang epilepsi dengan obat anti epileptik, sekitar 70% serangan dapat dikendalikan sepenuhnya atau hampir sepenuhnya, sedangkankan 20-25 %   serangannya menjadi  lebih ringan dan lebih jarang. Pada penyandang epilepsi dengan penyebab tumor otak, perlu dipertimbangkan kombinasi dengan pengangkatan tumor. Penyandang epilepsi dengan keganasan di otak, pada umumnya pengobatannya dikombinasikan dengan modalitas terapi keganasan lainnya .  Bagaiman bila menghadapi kasus yang  serangannya belum dapat terkendali ? Dokter wajib menganalisa kembali beberapa hal. Apakah benar yang dihadapi adalah penyandang epilepsi ? Gambaran serangan yang diceritakan, yang disaksikan  ataupun yang terekam pada video   perlu dievaluasi kembali. Apabila terdapat kemungkinan diagnosis epilepsi selama ini ternyata kurang tepat, akan dilakukan serangkaian pemeriksaan untuk mencapai diagnosis penyakit yang lebih tepat  Apakah obat sudah sesuai dengan tipe serangan ? Apakah obat telah diminum teratur  dengan tepat waktu dan dosisnya sudah tepat ? Ada kalanya perlu dilakukan pemeriksaan kadar obat anti epileptik dalam darah. Apakah serangan dapat dikaitkan dengan adanya  faktor pencetus ? Beberapa faktor pencetus yang dapat dikaitkan adalah kelelahan fisik, kurang tidur , ada obat  lain yang sedang diminum dan berinteraksi atau  suasana hati yang tidak nyaman , bahkan mungkin  merasa gembira  berlebihan. Pada wanita perlu di evaluasi apakah serangan berkaitan dengan siklus haid : sebelum,  selama atau sesudah haid. Langkah langkah tersebut perlu dilakukan untuk menghindari   terlalu cepat mengubah dosis obat, menambah dan atau mengganti obat.

Agar  tujuan untuk   mengendalikan serangan tercapai, perlu kerjasama yang baik antara dokter , penyandang epilepsi dan lingkungan sekitar. Pada sebagian besar kasus, bila telah didapatkan jenis obat dan dosisnya yang efektif  dapat mengendalikan serangan ,penggunaannya akan dipertahankan beberapa tahun. Sebagian kasus,sesuai kondisi yang mendasari, obat digunakan dalam jangka panjang.

Penyandang epilepsi dengan serangan yang sulit dikendalikan oleh  obat anti epileptik dengan jenis dan dosis sudah tepat, perlu dipertimbangkan pengobatan operatif. Di Indonesia pilihan operasi epilepsi sudah tersedia selama beberapa tahun ini .Tujuan tindakan operasi dan jenis operasi ditentukan sejak awal sesuai kondisi tiap  kasus. Keberhasilan operasi ini di Indonesia  diawali dengan pemilihan kasus yang tepat dan serangkaian pemeriksaan yang diperlukan dengan cermat.

Secara umum telah diuraikan sekilas tatalaksana epilepsi. Tatalaksana yang lebih rinci sesuai dengan kondisi tiap penyandang  dapat ditanyakan langsung kepada dokter spesialis Saraf yang tersebar di  seluruh Indonesia. Semoga dengan bertambah usia, Yayasan Epilepsi Indonesia  juga meningkatkan perannya bagi komunitas epilepsi  di Indonesia. Diharapkan lebih banyak pihak membantu Yayasan Epilepsi  Indonesia  dalam meningkatkan  penyebaran informasi tentang berbagai aspek epilepsi, sehingga masyarakat dapat menerima dan menempatkan penyandang epilepsi setara dengan penderita penyakit lain yang juga perlu mengkonsumsi obat dalam jangka panjang untuk mengendalikan penyakitnya.

Sebaliknya penyandang epilepsi tidak perlu menyembunyikan penyakitnya atau menarik diri dari aktivitas sosial karena epilepsi tidak menular dan diluar serangan penyandang tetap dapat melakukan aktifitas kesehariannya. Penyandang dan keluarganya perlu lebih aktif menyampaikan kondisi penyakitnya kepada lingkungannya. Dengan lebih terbuka , sekaligus dapat  meminta tolong kepada lingkungannya agar diberi pertolongan apabila mengalami serangan. Yayasan Epilepsi Indonesia juga dapat lebih aktif menyebarkan kembali informasi bagaimana lingkungan dapat lebih tepat  memperlakukan penyandang yang sedang mengalami serangan .

Akhirnya, agar tercapai tatalaksana epilepsi yang tepat guna, perlu kerjasama yang baik antara dokter, penyandang epilepsi dengan lingkungannya serta perhatian masyarakat luas.

*Dokter Spesialis Saraf di DKI Jakarta.

Kategori

abc Epilepsi (5) Acara Epilepsi (1) acara TV (1) adsense (1) Album Photo (1) apa itu epilepsi (4) bagaimana epilepsi (2) Berdamai Dengan Epilepsi (1) bisnis internet (1) buku (1) buku epilepsi (1) buletin rutin YEI (2) carbamazepine (1) Carbamazepine; luminal (1) cerita epilepsi (5) clobazam (1) Data Anggota (1) Data BASS anggota (1) Diet Ketogenik (6) Donasi (3) Donatur (1) epilepsi (3) epilepsy and food combining (1) Fun Walk (2) Fun Walk 2015 (3) Ganggua Penyerta (1) halal bil halal (3) Hari Epilepsi Internasional (2) Himbauan (1) HUT Yayasan Epilepsi Indonesia (3) HUT YEI 2016 (1) Idul Fitri (1) Jaknews (1) kartu anggota (1) Keanggotaan (1) Kebiasaan Mengkonsumsi Obat (1) kegiatan (16) kelangkaan obat (1) Kepengurusan (2) Kerjasama (1) ketrampilan (4) Kiat (2) komunitas (2) Komunitas Debosi (2) komunitas peduli epilepsi (2) komunitas peduli epilepsi Bandung (1) Konferensi (1) Konferensi Nasional Epilepsi 2016 (1) Media Massa (18) menikah (1) Misi YEI (2) Nomor ID YEI (1) Olah Raga (1) opini (1) pemeriksaan darah (1) Pendaftaran Anggota YEI (1) Pendataan anggota YEI (1) Pengobatan Epilepsi (1) Pertemuan (5) Pertemuan Rutin (9) Pertemuan Rutin epilepsi (1) prodia (2) Puasa (2) purple day (3) purple day 2013 (2) Purple Day 2014 (3) purple day 2017 (1) Resolusi WHO (1) Seminar (12) seminar epilepsi (4) survey (1) tabel (1) Tahun Baru (1) talk show epilepsi (1) tata laksana epilepsi pada penderita Dewasa (1) Terapi Epilepsi (2) tips (1) Tulisan bebas (7) Ucapan Idul Fitri (1) ulang tahun YEI (2) Wirausaha (1)

Purple Day - 26 Maret