Laman
▼
Senin, 29 Mei 2017
Selasa, 23 Mei 2017
Media : Jangan Kucilkan Orang Dengan Epilepsi
Jakarta, Meski epilepsi atau ayan sudah dikenal lama tapi pemahaman tentang penyakit ini masih rendah salah satunya mengira epilepsi adalah penyakit menular. Padahal epilepsi bukanlah penyakit menular sehingga penyandangnya tak perlu dikucilkan.
Banyak orang yang memiliki pandangan epilepsi adalah penyakit kutukan, kena guna-guna, kerasukan roh, dapat menular melalui air liur yang dikeluarkan serta tidak boleh terkena air atau dekat api. Namun semua anggapan itu tidaklah benar.
Kondisi ini membuat penyandang epilepsi kadang dikucilkan dari lingkungan dan membuatnya merasa tertekan serta depresi. Padahal epilepsi dapat diobati dan dikendalikan sehingga bisa hidup normal.
"Epilepsi sama sekali tidak menular dan bukan penyakit menular. Dengan demikian, jangan sekali-kali mengucilkan penyandang epilepsi," ujar Dr Hardiono D Pusponegoro, SpA(K) dari divisi saraf anak, Departemen Ilmu Penyakit Anak UI dalam acara seminar media 'Mari Hapus Stigma Negatif Epilepsi' di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (15/12/2011).
Dr Hardiono menuturkan ada pasangan yang tidak jadi menikah setelah tahu si perempuan memiliki epilepsi. Padahal tidak terdapat kaitan yang jelas antara orangtua yang epilepsi dengan anak-anaknya yang menyandang epilepsi.
Sementara itu dr Lyna Soertidewi, SpS(K) MEpid dari Departemen ilmu penyakit saraf UI menuturkan perempuan yang epilepsi bisa melakukan pengobatan yang optimum sebelum hamil.
Jika ingin hamil maka sebaiknya konsultasikan dengan dokter, melakukan perubahan pengobatan 6 bulan sebelum hamil lalu ditambah dengan asam folat dan mengonsumsi obat anti epilepsi.
"Wanita hamil dengan epilepsi yang menghentikan sendiri pengobatannya bisa berakibat fatal baik untuk ibu maupun janinnya, karena kalau ia mengalami kejang-kejang bisa menyebabkan kurang oksigen," ujar dr Lyna.
Perempuan dengan epilepsi seringkali takut bila calon suaminya mengetahui bahwa ia memiliki epilepsi, karena jika anaknya cacat maka ia akan disalahkan oleh suami dan keluarganya.
Sementara itu dr Irawati Hawari, SpS, Ketua Yayasan Epilepsi Indonesia menuturkan perlu mengubah cara pandang masyarakat tentang epilepsi dan menghapus stigma negatif bahwa epilepsi adalah penyakit memalukan bagi keluarga.
"Perlu meningkatkan kepedulian kita terutama orangtua dan keluarga terhadap penyandang epilepsi sehingga mereka bisa memiliki kualitas hidup yang baik," ujar dr Ira.
Jika menemukan ada orang yang terkena serangan kejang epilepsi, Dr Hardiono memberikan beberapa tips pertolongan yaitu:
1. Miringkan pasien, agar ketika ia muntah tidak masuk lagi karena kalau masuk ke paru-paru bisa merusak
2. Melonggarkan pakaian atau baju yang digunakan dan melindunginya dari benda-benda tajam
3. Jangan dipegang atau menahan gerakan yang bersangkutan karena bisa membuat patah tulang
4. Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut karena tidak ada gunanya
5. Bila keadaan berbahaya, segera bawa ke rumah sakit dan hubungi dokter.
(ver/ir)
Banyak orang yang memiliki pandangan epilepsi adalah penyakit kutukan, kena guna-guna, kerasukan roh, dapat menular melalui air liur yang dikeluarkan serta tidak boleh terkena air atau dekat api. Namun semua anggapan itu tidaklah benar.
Kondisi ini membuat penyandang epilepsi kadang dikucilkan dari lingkungan dan membuatnya merasa tertekan serta depresi. Padahal epilepsi dapat diobati dan dikendalikan sehingga bisa hidup normal.
"Epilepsi sama sekali tidak menular dan bukan penyakit menular. Dengan demikian, jangan sekali-kali mengucilkan penyandang epilepsi," ujar Dr Hardiono D Pusponegoro, SpA(K) dari divisi saraf anak, Departemen Ilmu Penyakit Anak UI dalam acara seminar media 'Mari Hapus Stigma Negatif Epilepsi' di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (15/12/2011).
Dr Hardiono menuturkan ada pasangan yang tidak jadi menikah setelah tahu si perempuan memiliki epilepsi. Padahal tidak terdapat kaitan yang jelas antara orangtua yang epilepsi dengan anak-anaknya yang menyandang epilepsi.
Sementara itu dr Lyna Soertidewi, SpS(K) MEpid dari Departemen ilmu penyakit saraf UI menuturkan perempuan yang epilepsi bisa melakukan pengobatan yang optimum sebelum hamil.
Jika ingin hamil maka sebaiknya konsultasikan dengan dokter, melakukan perubahan pengobatan 6 bulan sebelum hamil lalu ditambah dengan asam folat dan mengonsumsi obat anti epilepsi.
"Wanita hamil dengan epilepsi yang menghentikan sendiri pengobatannya bisa berakibat fatal baik untuk ibu maupun janinnya, karena kalau ia mengalami kejang-kejang bisa menyebabkan kurang oksigen," ujar dr Lyna.
Perempuan dengan epilepsi seringkali takut bila calon suaminya mengetahui bahwa ia memiliki epilepsi, karena jika anaknya cacat maka ia akan disalahkan oleh suami dan keluarganya.
Sementara itu dr Irawati Hawari, SpS, Ketua Yayasan Epilepsi Indonesia menuturkan perlu mengubah cara pandang masyarakat tentang epilepsi dan menghapus stigma negatif bahwa epilepsi adalah penyakit memalukan bagi keluarga.
"Perlu meningkatkan kepedulian kita terutama orangtua dan keluarga terhadap penyandang epilepsi sehingga mereka bisa memiliki kualitas hidup yang baik," ujar dr Ira.
Jika menemukan ada orang yang terkena serangan kejang epilepsi, Dr Hardiono memberikan beberapa tips pertolongan yaitu:
1. Miringkan pasien, agar ketika ia muntah tidak masuk lagi karena kalau masuk ke paru-paru bisa merusak
2. Melonggarkan pakaian atau baju yang digunakan dan melindunginya dari benda-benda tajam
3. Jangan dipegang atau menahan gerakan yang bersangkutan karena bisa membuat patah tulang
4. Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut karena tidak ada gunanya
5. Bila keadaan berbahaya, segera bawa ke rumah sakit dan hubungi dokter.
Minggu, 21 Mei 2017
Media : Kenali Penanganan Epilepsi
Jakarta, GoHitz.com – Perempuan cantik bernama Stefani Claudia (24 tahun) tak pernah menyangka bahwa prestasi internasional di ajang Sea Games yang akan diraihnya pupus sudah. Mantan atlet renang ini bercerita bahwa ketika usia 12 tahun, ia tiba-tiba kejang, padahal dirinya jarang sakit. Setelah mendapatkan perawatan, ternyata dokter mengatakan bahwa dirinya terkena epilepsi dan ia mesti mengakhiri karirnya sebagai perenang.
“Saya sempat drop. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Tepat pada tahun 2014, saya menjalankan operasi bedah di otak dan penyakit saya mereda,” ujar Audy, panggilan akrabnya saat berbincang dalam acara “International Epilepsy Day” di Mall Neo Soho, Jakarta, Minggu (22/4).
Pada sebagian kasus epilepsi ada pula penanganan epilepsi tidak hanya obat antiepilepsi (OAE), tapi juga dengan bedah otak.
“Bedah otak ini hanya untuk mengangkat bagian otak yang menghasilkan kejang. Proses pembedahan ini juga melalui rangkaian proses pemeriksaan. Bedah otak ini tidak akan menimbulkan masalah signifikan,” imbuh dr. Astri Budikayanti, SpS (K), Staf Pengajar Spesialis Neurologi, Fakultas Kedokteran UI/RSCM.
Dokter dengan riwayat pendidikan EEG in the Diagnosis & Management of Epilepsy di ILAE Virtual Academy Epilepsy mengatakan bahwa epilepsi atau istilah awamnya ayan ini adalah kondisi dimana seseorang mengalami kejang berulang. “Namun, ada pula tanda cecapan berulang, kejang hingga diam sesaat,” ujarnya.
Dokter Astri menjelaskan bahwa ada tiga penyebab epilepsi. “Faktor keturunan, biasanya bila dideteksi sejak dini dan penanganan cepat, epilepsi yang menyerang usia anak ini lebih cepat sembuh. Penyebab kedua itu karena ada tumor, infeksi, cedera kepala, ini pun kemungkinan juga bisa sembuh. Sedangkan untuk epilepsi yang tak diketahui penyebabnya ini susah untuk sembuh dan serangannya terjadi terus-menerus,” bebernya.
Dokter cantik ini mengingatkan bahwa orang di sekitarnya juga mesti respons cepat bila terjadi kejang pada penderita epilepsi karena terdapat beberapa situasi yang membahayakan nyawa penderita epilepsi seperti tenggelam, terjatuh, hingga kecelakaan bila terjadi serangan.
“Bila kejang sesaat biarkan dulu kejang itu selesai biasanya ini terjadi kurang dari 5 menit. Jangan beri sendok atau apapun ke mulut pasien karena hal itu justru membahayakannya. Saat itu, penderita epilepsi itu tidak menyadari apa yang terjadi. Tapi, kalau kejang berulang, segera bawa ke dokter,” tegas dr. Astri.
Dokter yang berpraktik di RSCM mengingatkan kepada para pasien epilepsi untuk memerhatikan pola makan, istirahat cukup dan cukup tidur.
Sumber : Kenali Penanganan Epilepsi
Senin, 08 Mei 2017
www.ina-epsy.org: Sonia : Orang Dengan Epilepsi Menjadi Penyiar Radi...
www.ina-epsy.org: Sonia : Orang Dengan Epilepsi Menjadi Penyiar Radi...: Salah satu bukti bahwa orang dengan epilepsi bisa berkarya seperti orang tanpa epilepsi, adalah Sonia Cinantya. Gadis yang tinggal di Bogor...



